Beranda > My Diary > Namanya Ayu ( True Strory..)

Namanya Ayu ( True Strory..)

Kuingat dia sebagai temen sepermainanku saat kecil dulu. Teman untuk menghabiskan waktu bermain di lahan sawah atau di kebun kopimilik seseorang tuan tanah terluas di desa kami. Kadang kala di bukit kecil didekat sawah ayah. Kami berkejaran di pematang sawah, memetik diam diam bunga kopi, mengumpulkan bunga turi yang jatuh di tepi jalan, melamun di pinggir ladang wortel yang sejuk dan mengejar kupu- kupu di kebun anggrek kepunyaan pakde-ku.
Sampai pada kelas tiga sekolah menengah yang pertama yang cuma satu- satunya di kecamatan ini. Ayu masih juga sahabatku.Masih juga teman melamun di bukit itu. Sebuah tempat untuk berbincang tentang apa saja. Tentang khayalan- khayalan kami.
Namanya Ayu, selalu kuingat dia sebagai sosok yang mempunyai segala kelebihan . Wajahnya yang memang seperti namanya,ayu dan tinggi badan yang sering menipu. Banyak yang menyakan Ayu sudah lulus SMA. Otaknya yang tidak bisa di bilang pas- pasan, karena nilainya diatas nilaiku. Tuhan telah berbaik hati pada temanku itu.
Tapi ketika usai DANEM dibagikan, dan esoknya kujemput Ayu di rumahnya yang berada di pojok desa sebelah.
” Ayu, NEM kamu bagus, diatas NEM-ku pula. Ikut aku daftar mendaftar sekolah di kota Kabupaten, ya?”
Kusebut nama sekolah SMA faforit unggulan yang katanya hanya bisa dimasuki pemilik NEM tinggi.”Nanti kita satu kos- kosan, ya. Enakkan bisa belajar bersama-sama. Setiap Sabtu kita pulang sama- sama. Pokoknya sama- sama terus… kataku kemudian.
Entah mengapa Ayu menunduk. Dia tengelam dalam diam. Aku menunggu dia bicara, namun dia terisak.
” Andini, tentusaja kamu dapat sekolah, kamukan sebenarnya orang kota yang tinggal di desa. Punya pikiran maju, orangtua kamupun berpenghasilan cukup, sedangkan …aku…aku…. tidak mungkin sekolah lagi. Ucapan Ayu terhenti oleh isakan,  tapi aku dapat mengira-ira kalimat macam apa yang akan diucapkan olehnya.Kupandangi rumah Ayu yang sempit dan tanpa ubin, tanpa plafon dan tanpa pekarangan luas. Aku tahu seberapa banyak upah bapak dan ibunya yang buruh tani. Aku tahu bahwa empat adiknya yang masih kecil kecil itu perlu di sekolahkan. Aku tahu orang tuanya mesti berpikir dua kali untuk menyekolahkan Ayu di di jenjang SMA yang tentunya lebih membutuhkan uang yang lebih banyak dari biaya SMP.
” Lagi pula aku hanya di beri dua piliha: lekas- lekas menikah atau cari kerja.”
” lantas?”
” Aku belum ingin menikah, jadi aku kan mencari kerja.”
Menikah selulus SMP bagi penduduk di desa kami adalah hal yang biasa. Bukan suatu hal yang aneh dan perlu di tertawakan. Tapi bagi Ayu, itu seperti mimpi buruk. Sehingga susah payah ia merayu orang tuanya, agar seseorang tetangganya yangtelah melamar Ayu menunggu dua atau tiga tahun lagi.
Bulan- bulan berikutnya setelah aku menjadi pelajar SMA aku masih sering menemui Ayu, saat akhir pekan, saat aku pulang ke rumah. Sekedar ingin mengetahui kabarnya, atau bercerita tentang segala hal yang mungkin aku ceritakan ke ibu.
Pada suatu Sabtu sore, setelah menempuh beberapa kilometer dari kota., aku mengantarkan seplastik jambu air yang baru saja di petik dari pohon halaman rumahku untuk Ayu. Kulihat Ayu sedang melamun di bale bale bambu depan rumahnya. Sorot matanya kosong menatap  seorang adiknya yang berumur empat tahun , bermain kelereng.
“Ayu…”
Ayu menoleh, ” Andini? Kapan pulang?”
” Tadi siang”.
Kuberikan sekontong plastik berisi jambu air dan di sambut  Ayu dengan ucapan terimakasih. Adiknya yang sedang bermain kelerang menghampiri Ayu. Beberapa detik kemudian satu buah jambu berpindah ke tangan mungilnya.
“Andini, aku belum juga dapat pekerjaan. Tapi aku tidak mau menikah sekarang. Kamu mau bantu aku cari kerja , Dini?” Aku mengangguk,  mesti dalam hati aku sedikit ragu. Jaman sekarang mana ada pekerjaan yang menghasilakn cukup uang untuk seorang tamatan SMP?
Dan setelah sebulan aku tidak pulang ke desa, tiba- tiba ia datang ke kostku sendirian.
“Andini, bantu aku………Aku bingun sekali. Laki- Laki itu mendesakku agar segera menikahdengannya. Padahal aku belum ingin menikah, Andini. Tapi ibuku terus bilang, Lha kamu mau jadi apa? menikah enggak, kerja nggak. Menurutmu bagaimana kalau aku jadi TKW saja?”
” TKW?” Keningku bekerut.
” Iya, TKW. Aku di tawari Ning Siti, tetangga sebelah rumahku. Kata Ning Siti , Jadi TKW  bisa dapat banyak uang. Ning Siti juga bilang , pekerjaanya cuma sebagai pembantu, tapi begitu pulang nanti bisa bawa oleh -oleh banyak. BIsa bawa dolar, bisa bangun rumah……
” Tapi kamu kan masih belum cukup umur?” Kataku mengingatkan.
“Kata Ning Siti itu bisa di atur, lagi pula penampilanku juga bisa berubah seperti oarng dewasa.”
Tentu saja aku masih gusar.bukan semata karena dia akan menjadi tenaga kerja ilegal, tapi aku juga mendengar cerita tidak mengenakan tentang di luar negeri.
” Tidak mudah hidup di ratau!” Itu saja yang aku katakan.
Waktu ternyata tak seperti siput, tak ada kata lambat untuk perjalanan. Waktuku, Mesti rasanya baru saja ku kenal waktu. Sungguh, baru aku tahu, waktu – waktu ku berlari begitu cepet.
Ini tahun keduaku di SMA. Waktuku tersita oleh bebagai les. Kupkir inilah masa- masa tersibuk yang pernah kualami. Minggu pagi aku dan disty, teman sekamarku, hendak berangkat lari pagi seperti biasa. Kuambil uang di dalam dompet untuk mampir ke warung pecel langganan kami. Dan tanpa sengaja tiba- tiba selembar foto Ayu yang terselip di dompet ku terjatuh. Pikiranku pun teringat  pada sahabat yang sudahbeberapa lama tak kutemui itu, sejak terakhir dia datang ke kostku.
Memang selama aku pulang tiap bulan sekali. Aku hampir tak punya waktu mengunjunginya. Kabar terakhir  yang aku dengar Ayu sudah  berangkat ke negeri Jiran. barang kali keberangkatan yang amat mendadak sehingga tidak sempat menemuiku.
Kamipun segera menujualun- alun berlari -lari kecil. Dan  ketika keringat sudah mulaimenderas, kamipun segera beristirahat di warung pecel seberang alun-alun.
Seoarng penjual koran di kerubungi pembelinya. Sepertinya berita yangamat menarik.
” Ada berita apa sih pak?” Disty menyapa seseorang yang baru saja melewati kerumunan itu. Yang di tanya hanya mengangkat bahu kemudian meneguk segelas kopi pesananya, dan berkata”Ndak jelas, dik. Tapi kallau tidak salah dengar itu lho tentang TKW dari kabupaten sini yang setelah di siksa majikannya di luar negeri. Mayatnya sudah di pulangkan kemarin.”
Aku mendadak menghentikan suapan nasiku. ” TKW dari kabupaten sini? Sudah jadi mayat? Siapa?”
kalu tidak salah namanya ad yu..yu-nya. apa Rahayu gitu ya?
Ayu…?! Maish kuingat betul bahwa dia sahabatku.
“Andini , kamu kenapa?” Suara Disty mengingatkan bahwa aku masih di warung ini.
Aku mengernyit, ” Kenapa bagaimana?”
” KOk tiba -tiba pucat?”
Aku membaung nafas, ” nggak tahulah, kiat pulang saja, ya!”
Dengan terburu-buru Disty Mengikuti langkahku yang tergesa- gesa. Sesampai di kamar, segera kuambil ranselku dan berbisik kepada Disty,” aku mudik dulu!” Aku pun berangkat sembari pikiranku di penuhi tentang kenangan- kenangan  manis Ayu.
Tujuan pertamaku adalah rumah Ayu. Tidak kuhiraukan letih yang cukup menyiksa kakiku. Sebab yang ada di benakku adalah Ayu da Ayu.
Seorang anak sedang bermain petak umpet bersama segerombolan anak -anak lain di halaman yang tak luas itu. Rumahnya masih tetap seperti yang dulu, sederhana. Tapi sedikit perubahan yang kulihat adalah lantai yang sudah tidak lagi dari  tanah tapi ubin berwarna kekuning- kuningan. Aku masih terpaku di seberang rumah itu. Sengatan matahari pun  seoperti menyuruh ku lekas berteduh.  Tapi aku seperti sudah membatu. Letih selama perjalanan telah terusir entah kemana.
“Tidak…” Aku belum siap mendengar apapun tentang Ayu. Air mataku pun mulai runtuh. Kupandangi adik- adik Ayu. Kupandangi rumahnya yang mengingatkanku tentang segala hal.  Segera aku berbalik menyeka air mata ku yang mengajak langkahku berbalik kembali. Tapi seorang dengan wangi parfum menyengat menghampiriku dan erat memeluku.
” Yaampun, Andini! kenapa berdiri saja? ayo masuk, kebetulan sekali aku jugag baru datang dari Malaysia.”

Kategori:My Diary
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: